Kandungan Surat Al Bayyinah Ayat dan Asmaul Husna

On Senin, 14 November 2011 0 comments




Ø  Pada ayat yang kelima dijelaskan tentang inti seluruh ajaran para nabi yaitu ikhlas mentauhidkan Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka mengajak kaumnya untuk beribadah dengan ikhlas, hal ini sejalan dengan tujuan diciptakannya jin dan manusia yaitu untuk mengabdi kepada-Nya (QS Adz-Dzariyat: 56). Dan perlu diketahui, ikhlas dan mengikuti (mutabaah) Rasulullah saw dalam beribadah merupakan dua syarat muthlaq diterimanya amal. “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “
Ø  Ayat ini menjelaskan ayat sebelumnya bahwa mengapa mereka berpecah belah setelah Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam datang kepada mereka? bukankah dia adalah Rasul yang mereka tunggu-tunggu? Padahal (sebenarnya) mereka tidak diperintahkan baik di dalam kitab-kitab mereka dan seruan para Rasul mereka, maupun di dalam al- Qur’an dan seruan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam, kecuali untuk beribadah kepada Allâh Ta'âla semata dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya, dengan meninggalkan semua agama yang mereka ikuti dan memeluk agama Islam.Mereka juga diperintahkan untuk menunaikan shalat pada waktunya dengan memperhatikan tata cara, syarat dan rukunnya, serta diperintahkan pula mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka untuk para fakir dan miskin. Itulah agama yang lurus yang mengantarkan seorang hamba untuk mendapatkan ridha-Nya dan surga yang abadi dan selamat dari siksa dan amarah-Nya.
Tanda-tanda Orang Beriman Kepada Allah SWT








"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia."(QS.Al Anfal 2-4)

Dari Ayat tersebut telah jelas lah bahwa beberapa tanda-tanda orang yang benar-benar beriman kepada Allah adalah:
  1. Bila disebut nama Allah gemetarlah Hatinya
  2. Apabila Dibacakan Ayat-ayat Allah bertambahlah Imannya
  3. Mereka selalu bertawakal Kepada Allah
  4. Mendirikan Shalat
  5. Menafkahkan (berinfaq, shadaqoh)

1. Taqwa.

Taqwa adalah menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan melaksanakan segala apa yang diperintah oleh Allah SWT dan juga meninggalkan apa yang telah dilarang-Nya. Keimanan seseorang kepada Allah SWT belum sempurna jika ia tidak bertaqwa, yakni mewujudkannya dalam bentuk yang nyata dengan beramal shaleh atau berbuat kebaikan kepada orang lain.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk selalu bertaqwa dimana saja kita berada. Jika kita berada di pasar maka kita harus menunjukkan ketaqwaan dalam urusan kita di pasar, jika kita berada dalam klas yang sedang belajar kita juga harus bertaqwa kepada Allah dalam urusan menuntut ilmu dan mengajarkannya dan begitulah seterusnya dimana saja kita berada kita harus bertaqwa kepada Allah SWT tanpa harus ragu-ragu untuk melakukannya.

 Allah SWT sama sekali tidak membedakan derajat manusia berdasarkan suku, bangsa, bahasa, dan budaya, akan tetapi Allah SWT membedakan perbedaan antara seseorang dengan yang lainnya dengan taqwanya, barang siapa yang paling bertaqwa, maka dialah yang derajatnya paling mulia di sisi Allah SWT.

2. Malu.

Tanda keimanan yang amat penting dari seseorang yaitu al haya’ atau mempunyai rasa malu. Maksud dari mempunyai rasa malu disini bukan kita merasa malu berbicara di depan orang banyak sehingga merasakan panas dingin jika berbicara di depan umum atau kita merasa malu dengan penampilan yang kurang meyakinkan atau kurang keren di depan teman-teman kita dalam suatu acara. Akan tetapi, rasa malu yang harus kita tanam sebagai orang yang beriman yaitu malu jika kita tidak melakukan perbuatan atau hal-hal yang telah dibenarkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita mempunyai rasa malu seperti ini, agar tentunya tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan. Bahkan, keimanan dengan rasa malu menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dan tentunya tidak boleh juga kita pisah-pisahkan sendiri seperti dua sisi mata uang yang tidak diakui dan tidak bisa digunakan sebagai alat pembayaran yang sah.



             Bila malu tidak ada pada jiwa seseorang yang mengaku beriman, pada hakikatnya dia tidak beriman. Haya’ (rasa malu) terdapat dua macam yaitu:
1.      Malu naluri (haya’ nafsaniy), yaitu rasa malu yang dikaruniakan Allah kepada setiap diri manusia, seperti rasa malu kelihatan  auratnya atau malu bersenggama di depan orang lain. Dalam hal ini tentu kita harus selalu tunduk dan patuh kepada Allah SWT dengan segala ketentuan-Nya dengan mengkaruniakan kita malu naluri. Bila kita memiliki rasa malu terhadap diri sendiri dan juga kepada orang lain pasti kita akan selalu menjaga aurat jangan sampai kelihatan dihadapan orang lain. Oleh karena itu, orang yang tidak memiliki rasa malu harus diwaspadai, sebab kalau dia telah merusak citra dirinya sendiri, sangat mungkin baginya untuk merusak citra orang lain.

  1. Malu imani (haya’imaniy), ialah rasa ma!u yang bisa mencegah seseorang dari melakukan perbuatan maksiat karena takut kepada Allah SWT. Setiap muslim haruslah memiliki sifat malu kepada Allah yang sebenar-benarnya, malu yang ditunjukkan dimana saja, kapan saja, dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanapun juga. Bukan hanya malu untuk menyimpang ketika berada di masjid dan sejenisnya, tapi tidak malu-malu untuk melakukan penyimpangan di pasar, kantor, bahkan saat sendirian. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk selalu memperkokoh rasa malu sehingga tidak ada kejelekan sedikitpun dari sifat malu tersebut.

3. Syukur.

Tanda keimanan seseorang yang amat penting adalah selalu bersyukur. Allah SWT menganugerahkan nikmat yang banyak kepada manusia. Setiap detik dalam kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dengan yang namanya nikmat Allah SWT.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya manusia selalu bersyukur kepada Allah SWT. Syukur berarti “berterima kasih kepada Allah SWT”. Dalam arti lain, syukur ialah memanfaatkan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita sesuai dengan kehendak yang memberikannya.

Bersyukur mengandung banyak manfaat, diantaranya yaitu mengekalkan dan menambah nikmat itu pula dengan nikmat yang lain yang berlimpah, Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku)  maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih” (QS Ibrahim [14]:7).

Ada tiga macam cara kita bersyukur kepada Allah SWT:
  1. Bersyukur dengan hati, yakni mengakui dan menyadari bahwa nikmat yang diperolehnya berasal dari Allah SWT.
  2. Bersyukur dengan lisan, yaitu dengan mengucapkan “Alhamdulillah” yang berarti segala puji bagi Allah.
  3. Bersyukur dengan perbuatan, seperti melakukan perbuatan yang baik, sesuai dengan tuntutan agama.

Allah SWT melimpahkan nikmat yang banyak kepada manusia. Secara garis besar nikmat Allah terbagi atas dua macam yaitu nikmat yang menjadi tujuan dan nikmat yang menjadi alat untuk mencapai tujuan.








Ciri-ciri nikmat yang pertama adalah kekal, diliputi kebahagiaan dan kesenangan, sesuatu yang mungkin dicapai, dan segala kebutuhan terpenuhi. Adapun nikmat yang kedua meliputi kebersihan jiwa dalam bentuk iman dan akhlak yang mulia, kelebihan tubuh seperti kesehatan dan kekuatan, hal-hal yang membawa kesenangan jasmani, seperti harta dan kekuasaan, dan hal-hal yang membawa sifat keutamaan seperti pertolongan dan lindungan dari Allah SWT.

4. Sabar.

Yang terakhir atau yang Keempat dari tanda keimanan seseorang yaitu sabar. Sabar berasal dari bahasa Arab yaitu shabara-yashbiru-shabran yang artinya menahan atau mengekang.

Secara istilah sabar yaitu menahan diri dari bersikap, berbicara, dan bertingkah laku yang tidak dibenarkan oleh Allah SWT.

Sabar merupakan bagian yang penting dari iman. Dalam hadits yang diriwayatkan oieh Abu Nu’aim, Rasulullah SAW bersabda bahwa sabar adalah sebagian dari iman. Kedudukan sabar bagi iman sangat penting, seperti kedudukan hari Arafah dalam ibadah haji.

Nabi SAW melukiskan sabar sebagai barang yang sangat bernilai tinggi di surga. la juga pemah berkata, “sabar terhadap sesuatu yang engkau benci merupakan kebajikan yang besar” (HR. At-Tirmidzi).

5. Ridha dengan Keputusan Allah

Ridha berarti menerima keputusan kalah atau menang dengan hati yang lapang. Jika mendapat kemenangan maka siap untuk menjalankan tugas sebagai tanda kesyukuran kepada Tuhan, dan jika dinyatakan kalah, maka terima dengan hati yang lapang, dan merasa itu lebih baik daripada menang. Seorang ulama tasauf, Ibnu Athaillah Sakandari menyatakan: “Keridhaan adalah mengarahkan perhatian hati kepada ketentuan Tuhan bagi si hamba dan meninggalkan ketidaksenangan“. Seorang ulama yang lain, Ruwaim menyatakan:’ Keridhaan adalah tenangnya hati dalam menjalani ketetapan Allah.“

Pernah suatu hari khalifah Umar bin Khattab menulis surat kepada gubernur Abu Musa al Asyari: “Segala kebaikan terletak di dalam keridhaan. Malah jika engkau mampu jadilah orang yang ridha; dan jika engkau tidak mampu, maka jadilah orang yang sabar“








 

Asma’ul Husna
Ø  Asma’ul Husna artinya Nama-nama yang baik. Dalam Islam disebutkan Allah memiliki 99 nama yang baik yang tertulis di dalam Al Qur’an.
Ø  Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi s.a.w bersabda:
“Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yaitu 100 kurang satu. Siapa yang menghafalnya akan masuk syurga.” Sahih Bukhari.

No.
Nama
Arab
Indonesia
الله
Allah
1
الرحمن
Yang Maha Pengasih
2
الرحيم
Yang Maha Penyayang
3
الملك
Yang Maha Merajai/Memerintah
4
القدوس
Yang Maha Suci
5
السلام
Yang Maha Memberi Kesejahteraan
6
المؤمن
Yang Maha Memberi Keamanan
7
المهيمن
Yang Maha Pemelihara
8
العزيز
Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
9
الجبار
Yang Maha Perkasa
10
المتكبر
Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11
الخالق
Yang Maha Pencipta
12
البارئ
Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13
المصور
Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)
14
الغفار
Yang Maha Pengampun
15
القهار
Yang Maha Memaksa
16
الوهاب
Yang Maha Pemberi Karunia
17
الرزاق
Yang Maha Pemberi Rejeki
18
الفتاح
Yang Maha Pembuka Rahmat
19
العليم
Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20
القابض
Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)
21
الباسط
Yang Maha Melapangkan (makhluknya)
22
الخافض
Yang Maha Merendahkan (makhluknya)
23
الرافع
Yang Maha Meninggikan (makhluknya)
24
المعز
Yang Maha Memuliakan (makhluknya)
25
المذل
Yang Maha Menghinakan (makhluknya)
27
البصير
Yang Maha Melihat
28
الحكم
Yang Maha Menetapkan
29
العدل
Yang Maha Adil
30
اللطيف
Yang Maha Lembut
31
الخبير
Yang Maha Mengenal
32
الحليم
Yang Maha Penyantun
33
العظيم
Yang Maha Agung
34
الغفور
Yang Maha Pengampun
35
الشكور
Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36
العلى
Yang Maha Tinggi
37
الكبير
Yang Maha Besar
38
الحفيظ
Yang Maha Memelihara
39
المقيت
Yang Maha Pemberi Kecukupan
40
الحسيب
Yang Maha Membuat Perhitungan
41
الجليل
Yang Maha Mulia
42
الكريم
Yang Maha Mulia
43
الرقيب
Yang Maha Mengawasi
44
المجيب
Yang Maha Mengabulkan
45
الواسع
Yang Maha Luas
46
الحكيم
Yang Maha Maka Bijaksana
47
الودود
Yang Maha Mengasihi
48
المجيد
Yang Maha Mulia
49
الباعث
Yang Maha Membangkitkan
50
الشهيد
Yang Maha Menyaksikan
51
الحق
Yang Maha Benar
52
الوكيل
Yang Maha Memelihara
53
القوى
Yang Maha Kuat
54
المتين
Yang Maha Kokoh
55
الولى
Yang Maha Melindungi
56
الحميد
Yang Maha Terpuji
57
المحصى
Yang Maha Mengkalkulasi
58
المبدئ
Yang Maha Memulai
59
المعيد
Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
60
المحيى
Yang Maha Menghidupkan
61
المميت
Yang Maha Mematikan
62
الحي
Yang Maha Hidup
63
القيوم
Yang Maha Mandiri
65
الماجد
Yang Maha Mulia
66
الواحد
Yang Maha Tunggal
67
الاحد
Yang Maha Esa
68
الصمد
Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69
القادر
Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70
المقتدر
Yang Maha Berkuasa
71
المقدم
Yang Maha Mendahulukan
72
المؤخر
Yang Maha Mengakhirkan
73
الأول
Yang Maha Awal
74
الأخر
Yang Maha Akhir
75
الظاهر
Yang Maha Nyata
76
الباطن
Yang Maha Ghaib
77
الوالي
Yang Maha Memerintah
78
المتعالي
Yang Maha Tinggi
79
البر
Yang Maha Penderma
80
التواب
Yang Maha Penerima Tobat
81
المنتقم
Yang Maha Pemberi Balasan
82
العفو
Yang Maha Pemaaf
83
الرؤوف
Yang Maha Pengasuh
84
مالك الملك
Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85
ذو الجلال و الإكرام
Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86
المقسط
Yang Maha Pemberi Keadilan
87
الجامع
Yang Maha Mengumpulkan
88
الغنى
Yang Maha Kaya
89
المغنى
Yang Maha Pemberi Kekayaan
90
المانع
Yang Maha Mencegah
91
الضار
Yang Maha Penimpa Kemudharatan
92
النافع
Yang Maha Memberi Manfaat
93
النور
Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94
الهادئ
Yang Maha Pemberi Petunjuk
96
الباقي
Yang Maha Kekal
97
الوارث
Yang Maha Pewaris
98
الرشيد
Yang Maha Pandai
99
الصبور
Yang Maha Sabar
                          

0 comments:

Poskan Komentar

Get snow effect
Hacker Blitar Sejati™ http://www.remo-xp.com/ remo-xp™